Tentang seseorang yang seharusnya membenci aku.
Karena aku rasa aku telah
sejujur-jujur nya membohongi diriku sendiri.
percaya dengan kata-kata khianat yang biasanya aku ingkari.
Rasanya memang iya, benci lah kepadaku..
Karena kamu mengajak untuk saling berteriak di masa paling hening,
kita memaki sanubari satu sama lain dalam hati,
dan aku malah mogok bicara dikala kita tengah bahagia.
Aku sudah tidak ingat lagi dengan rasa sakit yang lama,
ironis nya semua tertutup tergantikan dengan rasa sakit yang baru.
Tapi aku selalu yakin luka yang dulu sudah menyatu,
mengering menjadi seperti kulit yang baru juga.
Bagian dari aku, sebagai tanda aku pernah pelajari suatu perkara.
Kamu juga begitu, aku tahu..
Selain cara mempertahankanmu dan membahagiakanmu,
meyakinkanmu untuk jangan yakin pada ketidakyakinanmu tentang aku. Sisanya, aku tahu..
Menyalahkanmu bukan pilihan.
Justru kali ini aku baru diajar bagaimana rasanya berbagi sakit hati yang sebelumnya
malah lebih sering aku pikul sendiri.
Kita mengawali kita demi aku dan kamu yang saling bertukar bercerita kata cinta,
dan mengakhirinya juga dengan saling memisahkan kata ‘kita’ atas aku ya aku, kamu ya kamu.
Aku tak pernah membenci mu, kamu juga begitu, dulu..
Cinta tak pernah berubah menjadi benci, cinta hanya beralih jadi 1 kata 5 huruf biasa lagi.
Kebetulan benci lah yang mengganti dan menempati urutan pertama di daftar 1 kata 5 huruf
yang sedang berarti. Ironi.
Sekian tentang kita yang baru baru saja berhenti menjadi ‘kami’.
‘Kami’ berarti kata pengganti yang mewakili dua orang atau lebih.
Tapi aneh nya setelah kita berpisah aku merasa malah kurang patut seperdua diriku yang biasa. Menyinggung kata biasa disitu, bahkan aku lupa seperti apa aku ini biasanya.
Buat kamu yang lurus hati memikul rasa sakit dengan absen abstain nya aku di sini.
bagaimanapun terimalah kehadiran pujian dan doa dariku yang mungkin tak akan meringankan
bebanmu sama sekali..
Tolong tetap bernyawa, lebih hidup dari biasanya. Sembuhlah, lebih sehat dari biasanya..
Berlalulah, lebih jauh dari biasanya.. Melompatlah, lebih tinggi dari biasanya..
Cintailah, lebih sayang dari biasanya.. Tersenyumlah, lebih lebar dari biasanya..
Menangislah, lebih sedikit dari biasanya.. Lapangkanlah, lebih luas dari biasanya..
Dan berbahagialah,
bahagiakan lah lebih banyak orang di sekitarmu lebih-lebih lagi daripada biasanya.
Karena aku tau kamu paling senang berbagi.. Kamu yang mulia berbahagia dengan berbagi.
Tetap lah seperti itu, jangan hiraukan aku..
Aku sudah biasa, lebih dari biasanya..